TONGKAT ESTAFET PUTUSSIBAU

hingga nanti tongkat estafet ini akan di teruskan lagi oleh generasi muda, Sampai nanti masa lalu kan menjadi sejarah para leluhur ,dan yang akan datang kan menjadi misteri sang inspirasi muda, perlahan berjalan mencari garis finish yang belum terlihat....
Tampilkan postingan dengan label Dayak Iban Sungai Utik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak Iban Sungai Utik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

Dayak Iban Sungai Utik hand tapping tattoo


Support by : borndeo.com
Youtube by :  youtube.com/deofighting
On Facebook : https://www.facebook.com/borndeo 

Tatto dengan motif iban "bungai terung" melambangkan kedewasaan dan  kemandirian bagi kaum remaja pria iban. Bungai terung terletak di bahu kiri dan kanan, yang berarti keseimbangan.
Lingkaran yg ada di dalam bungai terung disebut "perut mure" nampak seperti tali jiwa.
"perut mure" yang nampak seperti tali jiwa merupakan untaian tali yang  saling melingar di tengah bungai terung tersebut. "perut mure" wujud nyatanya bisa dilihat di kecebong (anak katak) bagian perutnya.

Tatto di Rumah Betang Sungai Utik  dibuat dengan cara tradisional (cara ketok / handtapping), oleh tatto artist Dayak Iban Sungai Utik. Sebelum bertatto yang di tatto maupun yang menatatto akan "muae ae tuak" memberikan "minuman kepada Pencipta", ini di maksud agar semuanya berjalan lancar, dan baik-baik saja.

Kamis, 03 September 2015

Tangga Keling Dayak Iban Sungai Utik, Kalimantan Barat


Support by : borndeo.com

Tangga Keling adalah nama Tangga untuk naik ke Rumah Betang yang berada di hilir Rumah Betang Sungai Utik. Kenapa disebut sebagai Tangga Keling bukan Tangga Kumang?

Intinya Tangga Keling Menggambarkan Orang yang menaiki Tangga Tersebut, jadi orang yang menaiki tangga tersebut adalah Keling dan tangga tersebut adalah Kumang yang berwujud perempuan yang dalam wujudnya tangga tersebut mempunyai buah dada.


Menurut Cerita Lama Dayak Iban,'Keling' ialah nama seorang pahlawan dan menurut legenda masyarakat Iban beliau tinggal di khayangan rumah panjang Panggau Libau Lendat Dibiau Takang Isang dan isteri beliau bernama 'Kumang' adalah dari rumah panjang Gelong Batu Nakong Nyingit Nyingong Nyimbang Nyerabang.


Keling mempunyai keperibadian baik, gagah, berani, bijaksana, sakti dan juga mempunyai wajah yang tampan. Sikap Keling yang utama ialah berani. Pejuang-pejuang Iban yang mendapatkan `pertolongan' daripada beliau sudah tentunya sulit untuk ditewaskan oleh musuh mereka pada saat masih berperang dahulu. Menurut masyarakat Iban seseorang yang berjumpa dengan Keling atau Kumang dalam mimpi mereka sudah pasti akan menjadikan seseorang itu berani dan menjadi pahlawan (Raja Berani).


Cerita kepahlawan dan keberanian Keling juga berbagai dan sentiasa diceritakan kepada anak-anak kecil orang Iban yang tinggal di rumah panjang. Misalnya orang-orang tua akan bercerita tentang kehebatan Keling dan bagaimana beliau menjadi seorang pahlawan yang sulit untuk ditewaskan oleh musuh, karena kesaktian dan keberaniannya.

Oleh karena itu Bagi orang Iban, nama Keling ini sangat amat dihormati dan mempunyai kaitan yang erat dengan adat istiadat dan tradisi Iban. Mungkin pada hari ini Keling dan Kumang boleh dikatakan sebagai teladan dalam masyarakat Iban, dan para leluhur mau menanamkan sikap keperibadian baik, gagah, berani, bijaksana, sakti dan juga mempunyai hati dan badan yang rupawan untuk kita semua generasi penerus nya.


Begitulah Nama Tangga Keling yang ada di Dayak Iban Sungai Utik terlahir ke Dunia, semoga siapa saja yang menaikinya akan terlahir jiwa dan raga Keling maupun Kumang yang baru ke Dunia yang akan mewarisi Kebijaksanaan, Keberanian, Kebaikan, Sakti, Gagah & Rupawan seperti Keling & Kumang yang Melengenda yang berasal dari Khayangan tersebut.

#dayak #iban #sungaiutik #kalimantan #Barat #kapuashulu #putussibau #indonesia #borneo #rumahpanjang #budaya

Rabu, 02 September 2015

Ngetan Ke Menua [Defending Native Land Rights] #IBAN


Ngetan Ke Menua [Defending Native Land Rights]. Beserakup sereta besaup Ngetan Ke Menua.
Big Thank you for everyone you're the best, God Bless.
Cameraman : Deo & Ricky.  Edited by : Deo Music by :Terra Sacra Time Lapses - Sacred Earth Around the World #Iban #DayakIban #Kalimantan #Sarawak #Borneo #NgetanKeMenua #Ibanceremonies

Support by : borndeo.com

Sabtu, 23 Juni 2012

Nyanyian untuk "Ulu Kapuas""


Sebuah Lagu dari  Ade Tanesia  yang di persembahkan untuk seluruh masyarakat sub-etnik dayak di sepanjang anak hulu sungai Kapuas. Sebuah kenangan atas perjalanan Ade Tanesia ke Kalimantan Barat 10 tahun silam

Silahkan dengarkan lagu "Ulu Kapuas"

Ilustrasi lukisan by : Erzane N E
Tittle : Travel into the past (Dayak Iban Tribe)

Lagu : http://soundcloud.com/adetanesia2140934/uncak-kapuas
Vocal/Lyric/Song  : Ade Tanesia Pandjaitan
Translated into Iban Language by Alberto Deo Prawira & Kartini, from Sungai Utik, West Borneo
Aransement: Pram
Guitar & Percussion: Pram
Thanks to: Iwan Djola, Alberto Deo Prawira, Ibu Kartini, Pramono.


"Ulu Kapuas"

 Versi Bahasa Dayak Iban:
udah ku buae' semua utai ku, ke dalam lubuk aek'
udah ku buae' pedeh ati ku, ke babas rimbak nyaak
oh nyadi nyadi utai rangkai diempa' bala ikan
oh nyadi nyadi ae' irup pait, bala jane rusa

udah ku tunu diri empu, ba tugung pandok (Api ungun) petang
berasai renyuk tulang-tulang ku
berasai renyuk tanah ku
berasai derasanya ae darah ku
berasai se~mengat idup...ku
uda semuanya uda,..
Piyak mega direku age bedau idup

Ooooha Betara kami to' age ka idup
ooo ha Betara jaga meh tanah aek kami.
Oooo ha Betara jaga meh mega menua kami to..

Versi Indonesia:

Sudah kubuang semua milikku ke dalam sungai itu
Sudah ku buang ke pedihanku ke dalam hutan itu
Menjadi….menjadi makanan kering, para ikan
Menjadi….menjadi minuman pahit, para babi rusa

Sudah kubakar diriku
Di perapian malam
Merasakan retaknya tulang-tulangku
Merasakan retaknya tanah-tanahku
Merasakan derasnya aliran darahku
Merasakan Jiwaku
Sudah semuanya sudah
Dan aku masih tetap hidup (2x)

Oh Tuhan, kami masih ingin hidup
Oh Tuhan, Jaga tanah kami
Oh Tuhan, Jaga kampung kami

*dengarkan dan download, lagu " Ulu Kapuas". Silahkan  Daftar dulu di http://soundcloud.com untuk mendownloadnya.

Sabtu, 10 Desember 2011

JEJAK "PANTANG" IBAN


Tato, Simbol Diri Orang Dayak Iban
Sabtu, 8 Oktober 2011 | 03:39 WIB
Oleh: A Handoko
KOMPAS/A HANDOKO
Seorang warga rumah Rumah Betang Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat menunjukkan tato pada awal September lalu. Generasi tua Dayak Iban umumnya menato hampir seluruh tubuh mereka.
Masyarakat subsuku Dayak Iban memiliki tradisi menato tubuh mereka. Selain menjadi ciri khas, tato adalah simbol keberanian masyarakat Iban. Lihatlah Klaudis Kudi (74), salah seorang generasi tua Dayak Iban, yang hampir sekujur tubuhnya berhiaskan tato. Dulu, simbol keberanian. Kini, bermakna kenangan.
Menato tubuh adalah tradisi nenek moyang kami. Saat perang suku, tato menjadi semacam tanda pengenal,î kata Kudi. Ia adalah tetua adat Dayak Iban di Kampung Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Selain Kudi, di Sungai Utik ada Antonius Kidau (73) dan Bandi (81) yang memiliki tato hampir di seluruh tubuhnya. Kudi dan Kidau menato tubuhnya saat sama-sama merantau ke beberapa tempat di Sarawak mulai sekitar tahun 1970. Bandi juga menato tubuhnya saat merantau ke Miri, Sarawak, tahun 1959.
Kidau mengatakan, dulu tato dibuat menggunakan alat sederhana, yakni jarum-jarum yang disatukan. îGoresan bergaris hanya perlu satu jarum, tetapi untuk gambar yang memiliki bidang luas perlu sedikitnya 12 jarum yang disatukan dan ujungnya dibatasi dengan benang,î katanya.
Batas benang itu dipakai untuk membatasi seberapa dalam jarum akan masuk ke kulit. Jarum-jarum yang sudah dicelupkan ke pewarna akan dipukul- pukulkan perlahan ke bidang kulit yang hendak ditato.
"Kami masih menggunakan pewarna tato yang dibuat dari jelaga lampu minyak yang dicampur dengan air tebu", kata Kidau. Untuk membuat tato, mereka perlu mengumpulkan jelaga yang sengaja mereka buat dengan menaruh seng di atas lampu minyak. Jelaga akan terkumpul di seng yang langsung terkena api dari lampu minyak.


Air tebu bercampur jelaga masih harus dikeringkan selama beberapa hari hingga menjadi kristal. Kristal hitam itu kemudian dicairkan lagi saat hendak dipakai. Luka yang dihasilkan dari jarum-jarum itu akan menjadi koreng dan ketika koreng sudah sembuh tertinggallah warna hitam sesuai pola yang digambar saat menato.
"Pertama kali ditato, badan demam selama beberapa hari. Setelah itu, setiap kali ditato masih tetap terasa sakit, tetapi tidak demam lagi. Yang paling sakit adalah tato di rusuk dan leher karena kulitnya tipis dan terasa sampai ke tulang. Tato penuh satu badan ini tidak dibuat dalam sekali menato, tetapi belasan kali," ujar Kudi menunjukkan tato di tubuhnya.
Tato juga umumnya dimiliki oleh para lelaki Iban saat ini, tetapi tidak sebanyak yang dimiliki oleh generasi tuanya. Kepala Desa Batu Lintang Raymundus Remang (46) mengatakan, menato tubuh juga memerlukan nyali karena dulu alat tato masih tradisional. "Generasi setelah saya ada juga yang masih punya tato, tetapi sudah menggunakan mesin sehingga tidak sesakit menggunakan tato tradisional," kata Remang.
KOMPAS/A HANDOKO
Rumah Betang Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat pada awal September lalu. Masyarakat Iban seperti halnya sub suku Dayak lainnya di Kalimantan Barat, memiliki tradisi hidup komunal di rumah betang atau rumah panjang. (lanjut baca)

*****

Folk Tattospace dan Eternity Tatto Parlor
Sungai Utik, Kapuas Hulu
Kalimantan Barat, Desember 2011
JEJAK "PANTANG" IBAN
Tinta yang mengalir dalam darah
Mengantar pada penggalian keagungan budaya
agar mampu berdiri kokoh diatas tiang tradisi

Sungai Utik, Kapuas Hulu
Kalimantan Barat, Desember 2011

JEJAK "PANTANG" IBAN
Ink flowing in the blood
Fused with the body and soul
Led to the excavation of cultural greatness
To be able to stand firm above the poles of tradition

--
Oleh-oleh setelah team Jejak Pantang Iban menyelesaikan Tugas Mulianya :


Team Jejak Pantang Iban dan Warga Rumah Betang Sungai Utik


Video dokumenter 3 tatto artis Jogja (Hendra,Agung,Erzan) dalam pendataan design tatto dayak Iban di Sungai utik batu lintang,Kapuas hulu,KALBAR.

Minggu, 14 November 2010

Pulang Kampung nih, ke "Sei utik"

Rumah Panjai Sei Utik, Kal-Bar

Tiba tiba saja hari ini ku ter "Ngah",
Apalah bahasanya mungkin teringat/terkenang, akan ketenangan sebuah budaya dan kampung halamanku, apalagi saat mendengar Pidatonya Om Barack Obama "Pulang Kampung nih"
(saat berkunjung ke Indonesia:)

aku juga pengen jadinya mudik pulang kampung (padahal sekitar bulan juli 2010 kemarin barusan mudik), wah pegen mudik trus ntar bisa kering nih dompet, dana cair gak ngalir.hee

Nama Kampung nya Sei utik,
di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat tepatnya.

Sungai Utik, secara harfiah berarti sungai putih, adalah nama sungai dimana warga mandi dan mencuci.Sungai yang ditutupi dengan pasir putih bersih. Air jelas kecuali saat hujan deras pada petang hari membawa lumpur dari tempat yang lebih tinggi.
Sebenarnya itu kampung ibu ku, tapi kalau libur sekolah waktu masih kecil ku sering di ajak kesana.

Sebuah rumah panjang di tepi sungai Embaloh di Kalimantan Barat.
Rumah itu memiliki 28 pintu, yang menyebabkan 28 rumah individu, rumah bagi sekitar 40 keluarga Dayak Iban.

Keluarga berbagi beranda, ruang depan dan ruang tamu, yang merupakan ruang besar 100 meter dan panjang sekitar 5 meter lebar.
Lantai terbuat dari kayu terbaik di Kalimantan, yang disebut kayu ulin. Mereka mendapatkan kayu dari hutan cadangan diwariskan dari generasi ke generasi.

Mereka tidak pernah akan membiarkan hutan gundul
jaaaauh jauuuuh...nan jaauuh
jauh dari berisik jalan raya
Menghirup Udara Hijaunya alam lebih segar dari pada Asap Putih Hitam Kendaraan
Saat Malam tiba Bebas Melihat Bintang yang terang, karena tak terlindung oleh gedung gedung yang tinggi.
bening nya air kalau mandi pun batu2 nya kelihatan,seirama dengan suara sungai yang mengalir dari hilir ke hulu.

anda tahu teman? dimana ....

di peta atau google earth pasti ada kok, jgn kuatir bila anda mau melihat gambarannya
klw anda mau berkunjung ke sana
desa yg kucinta, nan jauh di sana
elok,mungil, sederhana dan masih hijau
the village name is sei utik ( sungai utik ), keren bukan namanya ^^
terletak di kalimantan barat.,tak jau dari kota Putussibau( Kapuas Hulu) kira kira kalau pakai Motor/ Bus 1-2 jam.



desa Sei utik yang Mayoritas penduduknya ialah Suku Dayak Iban
tentu mereka akan menyambut anda dengan senyuman yang Hangat, ramah dan santun
mereka menyambut dengan senyum lebar.Jika mereka pikir Anda bersikap baik, para wanita tua kemungkinan akan memberi Anda pelukan erat dengan tawa menderu
Saya terharu waktu masih Kecil dulu sering seperti itu ;_;
wah bahagianya melihat mereka ceria dan rasa kekeluargan

Berkunjunglah kesana, Sempatkan diri Anda teman !!!
wah kalau di tanya tempat wisatanya yang unik dan asik di mana?
pilih saja mau di darat ( Hutan) atau mau di air (Sungai ).
it's oke, silahkan mana asiknya mau di mana
yang paling tepat anda jelajahi saja air sungainya dari hulu ke hilir atau sebaliknya.
pasti mendapatkan Pengalaman pertualangan yg Exstrim (Expirance Extreme Adventure)

suatu saat nanti
bila anda berkunjung kesana, anda akan di sambut dengan gerbang yg bertuliskan
(gaga temuai datai yg berarti senang tamu datang)

dan bila anda pulang kembali dari kampung sei utik, di gerbang nya telah tertulis
( gerai temuai pulai yg berarti sehat tamu pulang)

gerbang tersebut tak jauh dari jalan masuk menuju rumah panjangnya (long house),
anda akan melihat rumah panajang tersebut yang masih tradisional,
tiang nya yang besar2 yg di buat oleh pemikiran jenius nenek moyang jaman dulu.
disini budaya di dalamnya juga masih melekat dengan kehidupan masyarakatnya.
walaupun kehidupan dari luar(kota) sedikit mempengaruhi kehidupan di daerah (kampung).
tapi kearifan lokal (local wisdom) masih tetap menyatu dengan masyarakat nya,
sejatinya mengalir dalam darah seolah tak terpisahkan.
pelestarian Hutan dan Isinya masih di pertahankan, dengan Hukum adat yang ada.
Mereka di desa ini bukanlah orang Primitif atau orang kampung biasa, Mereka juga berpendidikan,



tak jarang ada beberapa LSM ( Lembaga Sosial Masyarakat) dan orang Bule
membantu dan melatih mereka dengan banyak sosialisasi- sosialisasi
yang bermanfaat tentang Pelestarian Hutan,
Agar Hutan dan Isinya tetap terjaga dan terlindungi,
bahkan Orang dari luar Negeri pun datang ikut memberi sosialisasi.

Kehidupan masyarakat Dayak Iban di desa mungil Sungai Utik dan Rasa Kekeluargaan, keramahan masyarakat Sungai Utik : "Semoga kan membuat Anda ingin kembali kesana disuatu saat nanti, Mampir dan kunjungilah "
------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan di bawah ini sengaja aku selipkan kerinduan ku untuk kebudayaan di kampung nan jauh di mata.
Menggunakan Bahasa Suku Dayak IBAN
bejalai betungkat ka adat

orang putih berebut ka nemu pasal adat kitai laban sida ngaggap kitai iban unik ari aspek budaya,anang meh kitai tok berempu adat tok ninggal ka ia.anang malu kaban kitai sg iban,iban mh y.anak iban mesti berani.gik idup, agi ngelaban

Pelatih ke anak kitai nemu asal adat iban awak sida dudi ari ulih nyungkak penemu ngemansang ke bangsa ktai maju baka bangsa urang bukai.Bisi penguntung ktai nda muai adat lma lban nya narit ati urg luar meda pendiau pngidup ktai suba.Uji kta berati urang putih ti datai ngagai menua kitai,sidak ya rindu meda gaya adat bangsa kitai dirumah panjai..nda nemu betabuh nyu nmu meh maluk tawak taja munyi ya nda sebaka.

Aku ngasai ke diri empu kaban. Nyau ke puas diau belelang sereta begulai enggau bansa bukai, nadai kala berunding ke adat bansa diri.

Enti sema aku nanya kita ke bukai pelaba ke aku lebih kurang baka aku meh. Enda ibuh ke ngajat, beentelah, pantun, ramban, tauka tanya orang nama pengawa miring, sekeda jaku Ibanpan enda meh aku nemu..

Indah ngena jaku Iban pan agi kurang.. hehehehe..

Save The Culture & Save The World :)
aram meh begulai,Nyelamat ke budaya kitai Iban, Nyelamat ke dunia tok.
God Bless Indonesia:)

KATEGORI

kapuas hulu (48) kalimantan barat (43) Wisata dan Budaya (29) Berita Hiburan (28) putussibau (25) DAYAK (16) Renungan (16) Budaya (10) Iban (9) Kalimantan (9) Dayak Iban (8) HPMDKH (7) Sungai Utik (7) Borneo (6) Dayak Iban Sungai Utik (6) Save Borneo (5) Sarawak (4) save culture (4) save dayak (4) save rainforest (4) Deo (3) Heritage (3) Indonesia (3) KB 1 (3) Malaysia (3) Rumah Panjang (3) Wisata (3) borndeo (3) plb badau (3) pos lintas batas negara (3) presiden joko widodo ke putussibau (3) tatto dayak (3) Adat (2) Alam (2) Culture (2) Dayak Kalimantan (2) Dayak Taman Kapuas (2) Dayak tribe (2) GUBERNUR KAL-BAR (2) Hutan (2) Hutan Adat (2) Kartun Borneo (2) Melapi (2) Pilkada Kalimantan Barat (2) Rumah Betang (2) YOGYAKARTA (2) lagu Dayak (2) save earth (2) (PSBDK (1) 2012) (1) Asian Arowana (1) BATAS (1) BUKU (1) Benua Tengah (1) Bukit Kelingkang (1) Cornelis (1) Dayak di Ujung Pena Mahasiswa (1) Ensebang Plaik (1) Events (1) Festival Danau Sentarum & Betung Kerihun (1) GOLPUT (1) Gawai (1) Gubernur Kalbar (1) Indonesia. (1) Kalimantan Dayak Iban (1) Kartun Dayak (1) Keling (1) Keling Kumang (1) Kumang (1) Long House (1) Lunsa Hilir (1) Lunsa Hulu (1) Mahasiswa Dayak (1) Mamandung (1) Mamasi (1) Menua (1) Native (1) PAC (1) PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN X 2012 (1) PSBDK (1) Pesta Seni Budaya Dayak ke X (1) Putussibau Art Community (1) RAA MAMANDUNG (1) Rainforest (1) Save (1) Sayut (1) Sclerepages Formosus (1) TNBK (1) TNDS (1) Tamambaloh (1) Travel (1) West Kalimantan (1) arwana sentarum (1) badau (1) batang mandai (1) big tree (1) bukit tilung (1) dayak kayaan (1) gawai dayak (1) gereja mendalam (1) ikan arwana super red (1) jokowi ke plb badau (1) kayaan (1) landmark (1) masyarakat adat (1) mendalam (1) sauwe (1) silok (1) taman kapuas (1) upacara 17 agustus putussibau kapuas hulu (1)